Tampilkan postingan dengan label Wisata. Tampilkan semua postingan
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banda Aceh, bekerjasama dengan komunitas trail “Aceh Cahroad” menggelar event wisata petualangan dengan motor trail, yang dinamakan “Aceh Dirtbike Adventure 2012”.
Selain itu dalam pelaksanaannya nanti peserta juga dapat mengunjungi berbagai objek wisata yang dilalui dan sekaligus mencicipi kuliner Aceh. Namun kegiatan Aceh Dirt Bike ini bukanlah event yang bersifat perlombaan ataupun uji ketangkasan bermotor, akan tetapi ini merupakan event wisata, yaitu menjelajahi alam dengan menggunakan sepeda motor trail.
Liburan panjang sehubungan Hari Raya Idulfitri 1433 H, dimanfaatkan sebagian warga Aceh Selatan untuk bersantai bersama anggota keluarga. Mereka pun mengunjungi berbagai tempat wisata baik di pinggiran pegunungan dengan memanfaatkan objek wisata sungai maupun objek wisata pantai. Pemandangan yang ramai pada hari libur itu, kontras terlihat pada H+3 dan 4, sedangkan pada hari Raya Idul Fitri hingga Senin, (20/8) dan Selasa, (21/8), warga masih melakukan silaturrahmi dan saling bermaafan kesalahan antara sesama keluarga, sahabat, kerabat kerja, sanak famili dan handai tolan dengan ucapan "minal aizin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin".
Pada sejumlah lokasi objek wisata pantai seperti sepanjang kawasan wisata pinggir laut Air Dingin yang memanjang hingga 2-3 Km, tersedia pula aneka makanan dan minuman sehingga kesan wisata kuliner di daerah itu sangat terasa saat pengunjung menghampirinya.
Memadati pantai Air Dingin, sekitar 12 Km arah barat Tapaktuan, menjadi tujuan sebagian warga kota maupun dari luar kecamatan seperti Kluet Utara, Pasie Raja, Kluet Selatan, Meukek dan bahkan dari luar kabupaten yakni dari Aceh Barat Daya (Abdya).
Di objek wisata ini, ada dua jenis "kenikmatan" yang diperoleh sekaligus oleh pengunjung. Pertama, mereka dapat menikmati susana alam pantai dengan pemandangannya yang indah dengan nyiur melambai. Kedua, para pengunjung dapat pula menikmati alam pegunungan di mana terdapat lereng gunung dengan air terjunnya,
"Itulah nikmatnya di sini, sekaligus bisa mandi laut dan mandi air tawar di Air Dingin (air terjun)", kata Sukri yang bersantai bersama keluarganya.
Pantauan Analisa di Tapaktuan, Rabu, (22/8), terlihat para pengunjung (pelancong) lokal mulai termobilisasai sejak sekitar pukul 11.00 WIB dengan menggunakan kenderaan roda dua, minibus bus, mobil pick-up dan mobil pribadi.
Suasana libur Idul Fitri terasa lebih panjang, karena aktifitas kantor pemerintah dan sekolah belum dimulai, menambah kemeriahan suasana liburan tersebut, di mana para PNS dan pelajar masih memanfaatkan hari libur.
Begitupun, bagi sebagian warga, libur panjang hingga beberapa hari ini mengundang "kebosanan", terutama bagi mereka yang minim fasilitas dan keterbatasan ekonomi.
"Terlalu panjang liburnya juga terasa membosankan karena tidak ada aktifitas rutin sebagaimana masa kerha efektif di kantor," kata Muhijar, warga Tapaktuan seraya mengatakan idealnya libur hari raya hanya berlangsung tiga hari.
Menurutnya, momentum libur Hari Raya Idul Fitri, sebagaimana biasanya dimanfaatkan untuk saling berkunjung ke keluarga, kerabat, handai tolan dan kenalan lainnya.
Sementara itu, objek wisata pegunungan yang dinikmati warga adalah Pemandian Lubuk Sikabu di Panton Luas Kecamatan Samadua, sekitar 5 Km dari pusat kecamatan.
Bahkan, pada hari ketiga libur hari raya, banyak warga yang memanfaatkan objek wisata tersebut. Bersama anggota keluarga dan tetangganya, warga Tapaktuan dan Samadua bersantai di objek wisata yang airnya sangat dingin.
"Lokasi sini masih tampak indah, bersih dan tidak terlalu membahayakan untuk berenang di sungai dan nyaman, terutama bagi anak-anak," kata seorang pengunjung.[analisadaily]
Editor: Safrizal
Ayo Ikuti Aceh Dirtbike Adventure 2012
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Senin, 27 Agustus 2012
Kegiatan ini ditujukan sebagai upaya untuk mendorong promosi pariwisata di Aceh dan akan dilaksanakan pada tanggal 15-16 September 2012 dengan lokasi Banda Aceh dan Aceh Besar.
"Aceh Dirtbike Adventure akan menempuh rute Banda Aceh-Aceh Besar, yaitu rute hari pertama ; Banda Aceh-Siem-Cot Keueng-Babah Rimba-Seulimum-Jantho, kemudian dilanjutkan hari kedua ; Jantho-Cumcum-Siron-Indrapuri-Samahani-Banda Aceh.
Selain itu dalam pelaksanaannya nanti peserta juga dapat mengunjungi berbagai objek wisata yang dilalui dan sekaligus mencicipi kuliner Aceh. Namun kegiatan Aceh Dirt Bike ini bukanlah event yang bersifat perlombaan ataupun uji ketangkasan bermotor, akan tetapi ini merupakan event wisata, yaitu menjelajahi alam dengan menggunakan sepeda motor trail.
Nah bagi anda pecinta komunitas trail khususnya dan masyarakat umum pada umumnya yang berminat silahkan menghubungi Sekretariat Panitia di Black Jack Kupi, Jln. Abdullah Ujong Rimba No. 36 Banda Aceh, Cp. Emde 08126992255 dan Jack 08116802174. karna kegiatan ini terbuka untuk umum di seluruh Indonesia dan sampai saat ini sudah ratusan peserta dari seluruh Indonesia yang mendaftar.
Editor: Safrizal
Sumber: waspada.com
Warga Aceh Selatan Manfaatkan Hari Libur di Objek Wisata
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Rabu, 22 Agustus 2012
Liburan panjang sehubungan Hari Raya Idulfitri 1433 H, dimanfaatkan sebagian warga Aceh Selatan untuk bersantai bersama anggota keluarga. Mereka pun mengunjungi berbagai tempat wisata baik di pinggiran pegunungan dengan memanfaatkan objek wisata sungai maupun objek wisata pantai. Pemandangan yang ramai pada hari libur itu, kontras terlihat pada H+3 dan 4, sedangkan pada hari Raya Idul Fitri hingga Senin, (20/8) dan Selasa, (21/8), warga masih melakukan silaturrahmi dan saling bermaafan kesalahan antara sesama keluarga, sahabat, kerabat kerja, sanak famili dan handai tolan dengan ucapan "minal aizin wal faizin, mohon maaf lahir dan bathin".Pada sejumlah lokasi objek wisata pantai seperti sepanjang kawasan wisata pinggir laut Air Dingin yang memanjang hingga 2-3 Km, tersedia pula aneka makanan dan minuman sehingga kesan wisata kuliner di daerah itu sangat terasa saat pengunjung menghampirinya.
Memadati pantai Air Dingin, sekitar 12 Km arah barat Tapaktuan, menjadi tujuan sebagian warga kota maupun dari luar kecamatan seperti Kluet Utara, Pasie Raja, Kluet Selatan, Meukek dan bahkan dari luar kabupaten yakni dari Aceh Barat Daya (Abdya).
Di objek wisata ini, ada dua jenis "kenikmatan" yang diperoleh sekaligus oleh pengunjung. Pertama, mereka dapat menikmati susana alam pantai dengan pemandangannya yang indah dengan nyiur melambai. Kedua, para pengunjung dapat pula menikmati alam pegunungan di mana terdapat lereng gunung dengan air terjunnya,
"Itulah nikmatnya di sini, sekaligus bisa mandi laut dan mandi air tawar di Air Dingin (air terjun)", kata Sukri yang bersantai bersama keluarganya.
Pantauan Analisa di Tapaktuan, Rabu, (22/8), terlihat para pengunjung (pelancong) lokal mulai termobilisasai sejak sekitar pukul 11.00 WIB dengan menggunakan kenderaan roda dua, minibus bus, mobil pick-up dan mobil pribadi.
Suasana libur Idul Fitri terasa lebih panjang, karena aktifitas kantor pemerintah dan sekolah belum dimulai, menambah kemeriahan suasana liburan tersebut, di mana para PNS dan pelajar masih memanfaatkan hari libur.
Begitupun, bagi sebagian warga, libur panjang hingga beberapa hari ini mengundang "kebosanan", terutama bagi mereka yang minim fasilitas dan keterbatasan ekonomi.
"Terlalu panjang liburnya juga terasa membosankan karena tidak ada aktifitas rutin sebagaimana masa kerha efektif di kantor," kata Muhijar, warga Tapaktuan seraya mengatakan idealnya libur hari raya hanya berlangsung tiga hari.
Menurutnya, momentum libur Hari Raya Idul Fitri, sebagaimana biasanya dimanfaatkan untuk saling berkunjung ke keluarga, kerabat, handai tolan dan kenalan lainnya.
Sementara itu, objek wisata pegunungan yang dinikmati warga adalah Pemandian Lubuk Sikabu di Panton Luas Kecamatan Samadua, sekitar 5 Km dari pusat kecamatan.
Bahkan, pada hari ketiga libur hari raya, banyak warga yang memanfaatkan objek wisata tersebut. Bersama anggota keluarga dan tetangganya, warga Tapaktuan dan Samadua bersantai di objek wisata yang airnya sangat dingin.
"Lokasi sini masih tampak indah, bersih dan tidak terlalu membahayakan untuk berenang di sungai dan nyaman, terutama bagi anak-anak," kata seorang pengunjung.[analisadaily]
Rumah Cut Meutia Menjadi Tempat Inspirasi Selama Lebaran
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Selasa, 21 Agustus 2012
Rumah adat Aceh milik pahlawan wanita nasional ini menjadi tempat inspirirasi warga selama hari raya Idul Fitri 1433 Hijrah, dimana dari hari pertama lebaran sampai dengan hari ketiga lebaran rumah milik Cut Nyak Meutia atau biasa disebut dengan nama Cut Meutia ini selalu ramai di kunjungi warga.
Warga yang datang ke rumah Cut Meutia mulai dari anak-anak, remaja sampai orang tua, namun sayangnya mereka tidak mendapat pelayanan yang baik sebagaimana tamu datang ke rumah pada hari lebaran, mengingat Cut Meutia sudah mangkat pada 25 Oktober 1910 yang lalu akibat kenak peluru serdadu belanda yang di kepung di Hulu Sungai Peutoe, maka tamu yang datang terpaksa membawa makanan dan minuman sendiri.
Di dalam rumah Cut Meutia kita dapat melihat foto-foto tentang beliau yang di pasang di dinding rumah, adanya rapa’i dan di luar rumah kita juga dapat melihat kröeng (tempat penampungan padi tradisional), jingki (alat penumbuk tepung/padi tradisional), pos jaga pengawal Cut Meutia, balai, serta monument yang menceritakan tentang kepahlawanan beliau.
Rumah Cut Meutia dapat di temui sekitar 3 kilometer dari Desa Matang Kuli, yang tepatnya terletak di Gampong Pirak Kecamatan Matang Kuli Kabupaten Aceh Utara, dan makamnya terletak di Desa Buket Panyang, namun bila kita jalan kaki dari rumah ke makamnya menghabiskan waktu sekitar 2 hari 2 malam karna makamnya merupakan perbatasan antara Kecamatan Matang Kuli dan Kecamatan Cot Girek Kabupaten Aceh Utara.
![]() |
| Balai disamping rumah Cut Meutia |
![]() |
| Pengunjung didepan rumah Cut Meutia |
![]() |
| Pengunjung duduk di depan Monumen |
![]() |
| Pengunjung duduk di depan kroeng (tempat penyimpanan padi) |
![]() |
| Jingki (Alat penumbuk padi/tepung tradisional) |
Editor: Safrizal
Foto dokumen oleh Safrizal
Aceh Utara Terkenal Dengan Nama Pase
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Sabtu, 21 Juli 2012
![]() |
| Komplek makam Malikussaleh |
Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu dari 23 Kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Aceh yang terletak di bagian pantai pesisir utara dengan luas wilayah 3.296,86 Km2 yang terdiri dari 27 kecamatan dan 852 Gampong (desa) dengan perbatasan sebelah utara dengan Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka, sebelah selatan dengan Kabupaten Bener Meriah, sebelah timur dengan Kabupaten Aceh Timur dan sebelah barat dengan Kabupaten Bireuen.
Kabupaten Aceh Utara dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda empat dan bus umum, baik dari arah Medan (Terminal Pinang Baris) ataupun dari kota Banda Aceh (Terminal batoh). Perjalanan melalui Bus baik dari Kota Medan (Sumatra Utara) maupu dari Kota Banda Aceh akan menempuh waktu sekitar 6 - 7 jam. Ongkos bus dari dua daerah tersebut untuk menuju Aceh Utara sebesar Rp. 60,000 – Rp. 75,000.
Kabupaten Aceh utara di kenal dengan nama pase (pasai-kerajaan), kerna terdapat sebuah kerajaan Samudera Pasai yang bertempat di Desa Beuringin, Kecamatan Samudra, sekitar ±17 Km dari Kota Lhokseumawe. Dimana dalam perkembangannya tercatat bahwa pase sebagai pusat pengembangan islam di Nusantara dan pengaruhnya yang begitu luas sampai ke Asia Tenggara yang ditandai dengan bukti-bukti peninggalan kerajaan samudra pasai yang sampai saat ini masih terawat dengan baik seperti makam raja pertama yang mendirikan kerajaan samudra pasai pada abad ke 13 Masehi yaitu Meurah Silu yang bergelar Malikul-Saleh atau yang lebih dikenal dengan Malikussaleh.
Kerajaan samudra pasai ini muncul ketika kerajaan Sriwijaya hancur, wilayah kekuasaan kesultanan pase (pasai) pada masa kejayaannya sekitar abad ke 14 terletak di daerah sungai Peusangan dan sungai Pasai (kreung pase), adapula beberapa pendapat menyebutkan wilayah kerajaan pase itu lebih luas lagi ke selatan sampai ke muara sungai Jambo Aye (Panton Labu).
| Batu nisan Malikussaleh [foto by melayuonline] |
Kemunduran kerajaan pasai disebabkan dengan munculnya pusat politik dan perdangan baru di Malaka pada abad ke 15. Sementara kehancuran dan hilangnya peranan pasai dalam jaringan antar bangsa yaitu ketika suatu pusat kekuasaan baru muncul di ujung barat pulau Sumatera yakni Kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 16. Pasai di taklukan dan dimasukan kedalam wilayah Kekuasaan Kerajaan Aceh Darussalam oleh Sultan Ali Mughayat Syah dan Lonceng Cakra Donya hadiah dari Raja Cina untuk Kerajaan Islam Samudra Pasai dipindahkan ke Aceh Darussalam (sekarang Banda Aceh).
Dimana runtuhnya kerajan pasai sangat berkaitan dengan perkembangan yang terjadi diluar pasai itu sendiri, namun peningalan-peningalan dari kerajaan pasai ini masih banyak dijumpai sampai saat ini di abad ke 21. Bahkan penduduk sekitar makam Malikussaleh sering mendapatkan mata uang emas (dirham) keramik serta gelang mata delima.
Keberdaaan Samudra Pasai di Aceh Utara menjadi salah satu bukti sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Aceh terutama dalam peradaban islam, dan makam Malikussaleh ini juga menjadi salah satu tempat wisata bagi masyarakat terutama pada hari-hari libur, tak terkecuali orang-orang luar Aceh baik domestik maupu mancanegara juga menjadikan sebagai salah satu tujuan objek wisata.
Keberdaaan Samudra Pasai di Aceh Utara menjadi salah satu bukti sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Aceh terutama dalam peradaban islam, dan makam Malikussaleh ini juga menjadi salah satu tempat wisata bagi masyarakat terutama pada hari-hari libur, tak terkecuali orang-orang luar Aceh baik domestik maupu mancanegara juga menjadikan sebagai salah satu tujuan objek wisata.
Untuk mengetahui lebih mendalam tentang keberadaan kerajaan pasai di Aceh Utara, kini ada beberapa lembaga yang sedang melakukan penelitian terhadap kerajaan pasai tersebut, kita harapkan mudah-mudahan dapat menjelaskan perjalan panjang Kerajaan Pasai itu sendiri.
Editor: Safrizal
Sumber: Analisis dari berbagai sumber
Kapal Tsunami: Wisata Unik di Aceh
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Kamis, 19 Juli 2012
| PLTD Apung 1 [foto acehindah] |
Apa yang Anda lakukan kalau ada kapal seberat 2.600 ton mendarat di dekat rumah? Percaya atau tidak, ada beberapa orang yang bingung menjawab pertanyaan ini.
Tsunami yang menyapu Lautan Hindia pada 26 Desember 2004 tidak hanya membawa kerusakan dan korban jiwa. Kejadian tersebut juga menyapu PLTD Apung 1, kapal pembangkit listrik yang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh, naik ke darat. Seharusnya kapal ini menghasilkan listrik untuk beberapa dekade lagi untuk mengurangi keterbatasan listrik di Indonesia.
Tetapi kapal tersebut terangkat oleh tsunami hingga beberapa kilometer ke darat, tepat di tengah-tengah perumahan. Ketika saya pertama kali tiba di Banda Aceh pada tahun 2006, penduduk masih tinggal di beberapa rumah tepat di samping kapal itu. Sebuah jalan sementara dibuat mengelilingi benda besar tersebut. Di dekatnya ada kotak yang diletakkan di atas sebuah kursi, dengan tulisan tangan untuk meminta sumbangan bagi para korban tsunami. Pertanyaan yang ada di benak kami semua adalah: Apa yang akan mereka lakukan dengan sumbangan itu?
Sekarang maju ke tahun 2012. Saya senang melihat kapal besar itu masih ada. Kemudian kolega saya, Akil, mengajak saya untuk melihatnya. PLTD Apung 1 belum beranjak dari tempat semula tujuh tahun lalu, namun daerah sekitarnya sudah berubah menjadi sebuah monumen peringatan. Ada monument untuk mengingat para korban, dan jalan kecil sekitar rumah-rumah yang rusak akibat tsunami.
Pengunjung bisa naik ke kapal, yang member pemandangan kota yang menarik. Banyak yang melihat-lihat kapal dan foto bersama, termasuk pasangan pengantin baru. Lokasi tertutup pagar, dilengkapi area parker. Untuk menambah kesan pariwisata, banyak pedagang menjual DVD tentang tsunami di sekitar lokasi seharga Rp 25.000.
![]() |
| Keindahan sekeliling kapal Apung [foto google] |
Meski kecil, sektor pariwisata Aceh mulai mengalami kemajuan dalam beberapa tahun terakhir. Sekarang sudah ada bandar udara internasional. Kita bisa memesan hotel secara online. Dan ada beberapa tempat menarik untuk dikunjungi – Masjid Agung, Musuem Tsunami, dan Pulau Weh, yang memiliki tempat diving yang menarik. Tapi menurut saya tidak ada yang bisa menyamai PTLD Apung 1.
Saat ini Banda Aceh sudah dibangun kembali, dengan jalan-jalan baru, bandara dan gedung-gedung dengan cat baru. Mudah untuk melupakan apa yang telah terjadi di tempat ini. Tapi ketika melihat kapal ini, diam di daratan, di antara rumah-rumah penduduk, kita bisa merasakan betapa besar kekuatan dan kerusakan yang dibawah tsunami, serta betapa beratnya menjadi salah satu korbannya.
Editor: Safrizal
Sumber: blogs.worldbank.org
Keindahan Air Terjun Blang Kolam
Posted by HIMIPOL UNIMAL on Senin, 16 Juli 2012
![]() |
| Air terjun Blang Kolam [foto ANP] |
Bagi masyarakat Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe, kami yakin tidak asing lagi dengan pemandangan alam ditambah air terjun sebagai pelengkap keindahan alam, yang terdapat di pedalaman Aceh Utara, yang tepatnya di Desa Blang Kolam Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara.
Air terjun ini terletak sebelah selatan Kota Lhokseumawe yang jarak tempuhnya sekitar 45 Km dari pusat Kota Lhokseumawe. Untuk menuju kesana bisa menggunakan kenderaan roda dua, kenderaan roda tiga (becak mesin) maupun kenderaan roda empat. Namun bagi anda yang tidak memiliki kenderaan pribadi bisa menggunakan jasa orang lain dengan syarat harus di bayar.
| Pengunjung menikmati suasana alam di depan Air terjun |
Editor: Safrizal








