Tampilkan postingan dengan label AdatBudaya. Tampilkan semua postingan

Bila Ke Aceh Jangan Lupa Ucapkan “Pue Haba”

ACEH merupakan daerah yang memiliki kewenangan khusus di Indonesia untuk mengatur pemerintahan sendiri bersadarkan Undang-Undang Dasar Negara Nepublik Indonesia tahun 1945 yang di tetapkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA). Posisi Aceh yang penuh dengan keindahan panorama alam yang diapit oleh bukit barisan ditengah-tengahnya dan dikelilingi laut Samudra Hindia di sebelah barat dan laut Selat Malaka di sebelah timur, Aceh memiliki berbagai adat dan budaya, berbagai bahasa daerah, berbagai ras, dan juga menghormati kepercayaan menurut  agama masing-masing.

Kini Aceh mulai bangkit dari keterpurukan masa konflik dan tsunami yang sempat menjadi musibah dan penderitaan rakyat Aceh yang sangat mendalam, dari sisi pembangunan baik jalan, gedung sekolah, perkantoran, maupun tempat pariwisata terus ditingkatkan pemerintah yang dibantu oleh negara-negara internasional dan didukung oleh Pemerintah Aceh dan masyarakat Aceh.

Selama ini pemerintah pusat bersama rakyat Aceh terus membangun konsep kepercayaan bersama untuk menuju Aceh yang sejahtera, makmur, damai, demokratis dan berkelanjutan dalam  pembangunanan  dan perdamaian Aceh yang abadi.

Rakyat Aceh menerima tamu siapa saja yang datang ke Aceh baik investor dalam maupun luar negeri, para wisatawan, para penelitian, kunjungan kerja dan lain-lain sebagainya sejauh tidak bertentangan dengan Agama dan norma-norma adat dan budaya orang Aceh serta peraturan yang berlaku. Karena manyoritas masyarakat Aceh adalah penduduk muslim dan masyarakat Aceh sangat menghargai tamu baik dalam negeri maupun luar negeri, baik itu muslim maupun non-muslim apalagi di ucapkan Pue Haba (apa kabar), Pue Haba merupakan bentuk sapaan orang Aceh kepada saudaranya yang terlebih dahulu di awali dengan kata Assalamu’alaikum Warahmatullahhi Wabarakatuh(sapaan dalam agama Islam-red), namun bila anda non-muslim jika bertemu dengan orang Aceh cukup mengucapkan “Pue Haba”dan jawabannya pasti “Haba Goet”(kabar baik). [Safrizal]

Festival Tari Seudati Aceh 2012 Akan Digelar Oktober Di Bireuen

Pelaksanaan pagelaran Festival Tari Seudati Aceh 2012 sebagai ajang promosi progam visit Aceh 2013 akan digelar pada Oktober 2012 di Kabupaten Bireuen Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan menurut kabar Kabupaten Bireuen sebagai tuan rumah festival tersebut.
 
Sebagimana di kabarkan wartaaceh.com bahwa Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Kadisdikbudpora) Drs Jamaluddin SE MM, menyebutkan festival Seudati 2012 yang merupakan tarian khas Aceh serta program Visit Aceh 2013 memang dipercayakan Bireuen sebagai tuan rumah dalam pelaksanaan pagelaran budaya masyarakat untuk target mempromosikan pariwisata dan budaya Aceh.

Jamaluddin yang akrab disapa Romo itu menyebutkan, pelaksanaan Festival Seudati 2012 direncanakan bertepatan dengan hari jadinya Bireuen pada bulan Oktober 2012 mendatang agar acara lebih meriah.

Menurut Romo, program Visit Aceh 2013 dipilih Seudati karena selain Seudati merupakan tarian khas Aceh yang heroisme Seudati juga adanya keunikan tersendiri sehingga Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sapta sangat menarik memilih Seudati apalagi dianggapnya sangat potensi sebagai salah satu produk budaya khas masyarakat Aceh.

“Agar seluruh komponen masyarakat mendukungnya dengan positif sehingga nantinya event tersebut mampu meningkatkan kebudayaan khas Aceh itu ke level internasional,” harapnya.
Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kemenparekraf, M Faried, tambah Romo kepada dirinya ketika dilakukan launching pada minggu kedua Agustus lalu menyatakan sangat mendukung bahkan pihaknya memberikan dukungan penuh sekaligus yakin akan berhasil apalagi untuk pelaksanaannya didukung dana APBN 2012 senilai hampir satu miliar rupiah.
Editor: Safrizal

Adat Perkawinan Masyarakat Aceh Dalam Intat Lintoe

Intat Lintoe Baroe
Tradisi adat dan budaya Aceh yang pernah dilakukan orang Aceh sebelumnya  sebagai lambang atau ciri khas masyarakat Aceh dalam setiap acara perkawinan sampai saat ini terus di budayakan oleh anak cucunya sebagai warisan budaya orangtua.
 
Adat dan budaya perkawinan tersebut yang perlu di bawa ketika mengantar pengantin laki-laki meliputi ranup meutalóè, batéé ranup, u seulasön, aneu u, teubéì meu ôn, bakông asóê, bungkông sutra, dan méutulak pantòn, termasuk doem drien setelah acara menikah dan perkawinan selesai. Namun adat dan budaya tersebut yang mudah di dapat seperti di Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Bireun serta Aceh Timur dan beberapa daerah lain mungkin agak berbeda-beda adat dan budayanya. 

Khusus untuk Aceh Utara adat dan budaya intat lintoe baroe (mengantar pengantin laki-laki) sebagai berikut:

Ranup meutalóè (sirih) biasanya masyarakat adat menghiasi dengan berbagai macam bentuk yang di campur dengan pinang, gula serta kapur sirih. Ranup meutalóè ini dibawa oleh pengantin laki-laki (linto baro) kepada pasangan pengantinya (dara baroe) ketika acara peresmian dilangsungkan. Sedangkan batéé ranup merupakan sirih yang di masukan dalam panci, kemudian diletkkan pada tempat penerimaan tamu sebagai adat pemuliaan jamei (tamu) untuk di makan terlebih dahulu sebelum menikmati hidangan yang disediakan. 

U Seulasön merupakan kelapa yang dihiasi, dimana kulit luar kelapanya dikupas, biasanya hanya meninggalkan sedikit kulit luar untuk di buat tali sebagai ikatan, yang kemudian di ikat satu sama lain. Guna dan manfaat u seulasön ini untuk pengantinnya sendiri di kemudian sebagai bahan masakan dan keperluan lain sebagainya, karna mengingat pengantin baru tentu kelapanya yang kepunyaan sendiri belum ada.

Aneuk u (bibit kelapa) merupakan salah satu adat yang menarik ketika intat lintoe karna aneuk u ini di desain dengan berbagai bentuk seperti pesawat, kapal laut, tank, mobil, mesin perontok padi, namun desain tersebut di buat berdasarkan daerah, misalnya daerah pengunungan bibit kelapa ini didesain seperti mesin belah kayu (sensoe) karna daerah tersebut banyak pohon, daerah kota di desain seperti mobil, daerah pinggiran laut didesain seperti kapal laut dll. Guna dan maksud di bawa bibit kelapa ini dalam mengantar pengantin laki-laki untuk ditanam oleh sang lintoe baroe dan dara baroe sebagai bentuk awal dari kehidupan baru.

Teubéì meu ôn (tebu) juga merupakan salah satu adat masyarakat Aceh dalam perkawinan, bila teubéì meu ôn ini belum ada tentunya perkawinan di batalkan, namun dalam setiap perkawinan teubéì meu ôn sudah terlebih dahulu di siapkan sang linto baroe (pengantin laki-laki) untuk di bawa ke dara baroe (pengantin perempuan) ketika inta linto (mengantar pengantin laki-laki) di langsungkan.

Nah, bagaimana dengan bakông asóê (tembakau), bakông asóê ini biasanya di gunakan oleh orangtua atau nenek-nek untuk menghangatkan badan, namun bagi yang belum pernah mencoba bakông asóê tentu saja merasakan pusing ataupun mual. Dalam setiap intat lintoe bakông asóê ini dibawa kepada dara baroe yang dihiasi dengan berbagai macam bentuk. Guna dan manfaat bakông asóê untuk menghargai orangtua  atau nenek-nenek.

Bungkoh Sutra
Selain itu, adanya bungkông sutra yang merupakan kumpulan dari semua aksesoris dara baroe seperti baju, rok, kain, kosmetik, sandal, kerudung, perlengkapan shalat, dll. Biasanya bungkông sutra ini di sediakan pihak lintoe baroe untuk diserahkan kepada permaisurinya dara baroe. Guna dan manfaat untuk memenuhi kelengkapan sang kekasihnya dalam berumah tangga.

Meutulak pantòn (balas pantun) merupakan adat perkawinan ketika sang lintoe baroe datang ke istana kekasihnya yang di antar oleh kerabatnya, dimana sebelum memasuki ke istana (pelaminan) sang raja si uroe (raja sehari) di berhentikan dulu oleh pihak istana dara baroe guna untuk menjawab beberapa pantun yang disediakan, bila pihak raja tidak bisa membalasnya atau menjawab maka didenda oleh pihak ratu (dara baroe) baik berupa uang maupun tambahan mahar atau mas kawin. Sampai saat ini méutulak pantòn tersebut sudah jarang ditemukan ketika ada acara perkawinan.


Dara Baroe (pengantin perempuan)
Bagaimana dengan doem drien (pengawal pengantin), doem drien ini merupakan tradisi adat yang dijalankan masyarakat Aceh setelah acara pernikahan dan perkawinan selesai, dimana doem drien ini dilakukan beberapa malam di rumah pengantin. Guna dan manfaat doem drien  tersebut untuk mengawal atau menemani sang pengantin baru, karna mengingat mereka belum saling mengenal. Tapi sekarang doem drien itu tidak pernah lagi di lakukan karna setiap pasangan yang menikah tentu saja sudah saling mengenal melalui pacaran atau tunangan.

Selain itu, tradisi perkawinan masyarakat Aceh juga mengguakan pakaian dan umbul-umbul adat dan budaya Aceh serta tidak terlepas dengan upacara peusijeuk (tepung tawar) kepada kedua pasangan linto baroe dan dara baroe.



Editor: Safrizal

Himipol Unimal Akan Promosikan Visit Aceh 2013

Untuk mendukung program visit Aceh 2013 sebagai wujud memperkenalkan Aceh di mata nasional dan internasional dalam kehidupan soaial, adat dan budaya Aceh, maka kami Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik (HIMIPOL) Universitas Malikussaleh Kabupaten Aceh Utara Provinsi Aceh mendukung dan akan mempromosikan tentang Visit Aceh, wisata Aceh, adat dan budaya Aceh, kuliner Aceh, Travel Aceh, serta sejarah Aceh.

Dimana informasi tersebut akan kami kemas dalam bentuk tulisan dan didukung oleh gambar yang akan kami tampilkan untuk anda dalam blog HIMIPOLUNIMAL dengan alamat URL http://himipol-unimal.blogspot.com/.

Dengan adanya informasi ini kita harapkan saudara-saudara yang khususnya berada di luar Aceh dapat memahami dan mengetahui bagaimana Aceh saat ini atau setelah konflik berkepanjangan dan hantaman Tsunami yang begitu dahsyat ketika melanda beberapa daerah di Aceh pada 26 Desember 2004 lalu. Sebagai bukti sejarah tsunami Aceh kita dapat melihat kapal Apung di Banda Aceh serta mesium tsunami yang dibangun khusus oleh pemerintah Aceh sebagai  tempat yang menyimpan berbagai bukti-bukti sejarah tsunami Aceh yang menelan puluhan ribu jiwa tersebut.

Oleh karena itu kami sepakat untuk menyukseskan visit Aceh 2013 dan seterusnya dengan kemampuan dan tenaga yang kami miliki demi Aceh yang bermartabat, sejahtera, damai, adil dan meyeluruh bagi semua.